graha 59 - andalusiya wood
Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.
graha
Tampilkan postingan dengan label Properti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Properti. Tampilkan semua postingan

Bintaro Kawasan Pendukung Simatupang




Analis properti melihat kawasan Bintaro sangat prospektif yakni merupakan kawasan pendukung koridor TB Simatupang yang saat ini pertumbuhannya sangat pesat.

“Pertumbuhan di kawasan Bintaro dan sekitarnya tidak terlepas dengan perkembangan koridor TB Simatupang,” kata analis properti Colliers International Ferry Salanto di Jakarta, Rabu.

Pertumbuhan properti di koridor TB Simatupang didominasi perkantoran strata title maupun sewa, sedangkan untuk apartemen rata-rata merupakan pasokan lama serta hanya terdapat dua bangunan baru.

Sebagian besar apartemen baik sewa maupun strata tittle berlokasi di kawasan Bintaro, BSD, dan Alam Sutera yang memang sejak awal kawasan ini berkembang dari sektor hunian, jelas Ferry yang didampingi Akbar.

Ferry mengatakan, pertumbuhan properti di TB Simatupang mengalami kemajuan pesat pada tahun 2010 ditandai dengan banyak perusahaan tambang dan industri yang merelokasi kantornya dari CBD ke Simatupang.

“Ada beberapa alasan perusahaan itu pindah ke Simatupang yakni alasan keamanan, serta sebagian besar merupakan perusahaan yang tidak ingin tampil (low performance),” kata Ferry.

Ferry memperkirakan perkembangan di TB Simatupang masih akan prospektif dalam tujuh tahun mendatang (sampai 2017) dengan pertumbuhan rata-rata mengalami kenaikan tiga kali lipat per tahun.

Ferry menyebutkan, setidaknya sudah 42 persen pengembang properti tengah melakukan persiapan (sudah mengantongi izin tinggal dibangun), sedangkan sisanya 58 persen tengah berjalan (under construction) serta siap untuk beroperasi.

Salah satu yang menjadi daya tarik perusahaan pindah ke Simatupang adalah biaya sewanya masih terjangkau masih dalam kisaran Rp300 ribu per meter persegi, bandingkan dengan di kawasan CBD yang harga sewanya sudah tidak masuk akal.

“Hanya saja di dalam koridor Simatupang harus dijaga daya dukung infrastrukturnya apabila tetap ingin mempertahankan kawasan tersebut sebagai kawasan komersial pengganti CBD,” kata Ferry.

Ferry mengatakan, kawasan Bintaro sebagai pendukung TB Simatupang diperkirakan akan mengalami kemajuan yang sangat pesat mengingat dalam waktu dekat akan diselesaikan tol Kb Jeruk – Ulujami serta akan dimulainya pembangunan MRT Lebak Bulus.

Sebagai penyangga Jakarta kawasan Bintaro memiliki prospek yang sangat bagus, Lippo Land di koridor ini tengah membangun kawasan hunian menengah atas terpadu Embarcadero.

Fantastis, Rumah Tipe 43 Dibanderol Rp 8,8 Miliar



Harga properti, khususnya rumah tinggal, di London semakin tidak terkendali. Sebuah rumah satu kamar tidur di Denmark Hill, bagian tenggara London kini ditawarkan dengan harga 450.000 Poundsterling, atau sekitar Rp 8,8 miliar. 

Harga ini mungkin terdengar lazim di London, tapi rumah dengan harga fantastis tersebut hanya berukuran 43,2 meter persegi. Lebarnya pun hanya 2,5 meter.

Agen penjual properti Warren McCann optimis rumah ini akan cepat terjual. Pasalnya, lokasinya sangat strategis. Para penglaju bisa berjala kaki menuju stasiun kereta Denmark Hill.

"Saya pikir rumah ini dibangun oleh pengembang yang ingin menambahkan satu properti ekstra," ujar McCann.

Hunian sempit ini sebenarnya cukup baik, dalam tampilan maupun keadaannya. Rumah dua lantai yang memanjang tersebut memiliki semua kebutuhan pemilik rumah, seperti kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang keluarga, ruang makan, bahkan taman. Posisi dan pengaturannya saja yang tidak biasa.

Hal serupa juga ditekankan oleh McCann. Dia mengatakan, "Ruangnya ada, hanya tidak dalam pengaturan tradisional. Lokasi dan taman yang membuat properti ini akan terjual cepat."

Sumber: Kompas.com

Jakarta Jadi Kota Dengan Harga Properti `Terpanas` di Asia"



Bisnis properti ternyata tak hanya merekah di sejumlah kota di negara-negara maju Asia. Perusahaan konsultasi properti global independen Knight Frank bahkan menunjuk Jakarta sebagai kota yang unggul di bidang properti.

Indeks properti hunian primer di Jakarta tercatat melonjak hingga 184% dalam dua tahun terakhir. Sementara indeks peningkatan harga properti untuk bangunan kantor melambung 192,3%.

"Setelah bertransformasi selama 15 tahun menjadi negara yang lebih terbuka, stabil dan demokratis serta dibanjiri penduduk kelas menengah ke atas, permintaan lahan perkantoran dan apartemen di Jakarta mencapai level tertiggi. Itu terjadi dalam dua atau tiga tahun terakhir," ungkap Knight Frank dalam laporannya seperti dikutip CNBC , Rabu (9/4/2014).

Salah satu kota yang unggul di bidang properti adalah Bangkok. Harga lahan pengembangan properti hunian telah meningkat sebesar 190,7% dalam dua tahun terakhir.

Perusahaan internasional itu menilai kota-kota di Asia Tenggara ternyata mengalami pertumbuhan harga properti tercepat di antara sejumlah negara berkembang di kawasan Asia.

"Negara-negara berkembang Asia kini tengah mengalami pertumbuhan yang luar biasa dibandingkan negara-negara maju di kawasan yang sama," ungkap Kepala Riset Knight Frank di Asia Pasifik, Nicholas Holt.

Dia menyebutkan, salah satu kota dengan harga properti yang kian memuncak adalah Jakarta. Bersama dengan Bangkok, Kuala Lumpur, Phnom, Jakarta menjadi empat kota dengan pertumbuhan harga lahan tercepat di Asia.

"Ini dapat dilihat dari pertumbuhan nilai jual properti hunian dan komersil yang kuat dalam dua tahun terakhir. Tentu saja, pertumbuhannya dilihat dari basis harga yang lebih rendah sebelumnya," tutur Holt. Knight Frank mendefinisikan properti primer sebagai apartemen, kondonium, dan pengembangan kantor atau bangunan komersil.

Namun Direktur Pelaksana Chersterton, konsultan properti Singapura mengatakan, meski mengalami pertumbuhan yang cepat, terdapat sejumlah faktor yang dapat menghambat pertumbuhannya di masa depan.

"Pasar properti yang matang akan relatif transparan dan memudahkan uang untuk masuk dan keluar begitu saja. Begitu juga yang akan terjadi di negara-negara berkembang, akan ada beberapa halangan. Sementara di Jakarta, Anda hanya akan bisa membeli hak guna dan tidak memiliki hak untuk memilikinya jika Anda merupakan warga asing," tuturnya.

Sementara untuk pasar properti yang belum terbuka seperti Phnom Penh dan Yangon, peraturan jual beli masih belum jelas dan membuat para pebisnis asing tak bisa membelinya.

Meski demikian, permintaan domestika dipastikan tetap bisa membantu peningkatan harga di kota-kota seperti Jakarta, Bangkok dan Kuala Lumpur. Hal itu mengingat tingginya pertumbuhan populasi dan penduduk kelas menengah atas di wilayah tersebut.

Sumber: Liputan6

Cempaka Group Bangun Margonda Residence III di Depok



Cempaka Group, perusahaan properti, berencana membangun proyek Margonda Residence III di Depok, Jawa Barat. Pembangunan proyek hunian ini menghabiskan dana hingga Rp 150 miliar. "Dana investasi ini termasuk cukup besar," ujar Direktur Teknik Cempaka Group David Sutanto di Depok, Sabtu (31/8/2013).

David menuturkan, proyek Margonda Residence III dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektare (ha). Lahan pembangunan sudah mencakup lahan DMall dan Hotel Santika Depok.

Untuk jumlah unit yang dibangun hampir mencapai 750 unit. Dari total 750 unit, sudah terjual 730 unit, sementara sisanya masih dalam penawaran jual. David mengungkapkan, pada peluncuran awal harga hunian dijual Rp 130 juta per unit. Saat ini harga yang sudah ditawarkan mencapai Rp 240 juta per unit.

"Jadi memang sekitar 2 tahun lebih, harga jual Apartemen di Depok mengalami kenaikan yang cukup drastis," kata David.

Selain itu, untuk sewa apartemen mencapai sebesar Rp 2,8 juta per unit. Dari dana sewa tersebut udah mencapai biaya listrik dan pencucian.

"Adapun 70% dari jumlah unit apartemen digunakan untuk para mahasiswa, dan sisanya yang hampir mencapai 30% biasanya untuk investasi oleh pengusaha," ungkapnya. (Dis/Nur)

Sumber: Liputan6.com

Ini Dia Kode Etik yang Wajib Dimiliki Agen Properti



Dengan maraknya bisnis properti beberapa tahun belakangan, banyak bisnis lain yang ikut terkerek naik, karena sifat dari bisnis properti yang memiliki sifat multiplier effect sangat luas dan trickle down effect yang besar. Bisnis-bisnis agen properti independen, lokal hingga francise dari luar negeri bergerak linier mengikuti perkembangan bisnis properti. Jadi, salah satu komponen dari bisnis properti adalah bisnis agen properti atau broker.
Gurihnya bisnis agen properti membuat banyak orang yang ingin menjadi agen properti. Sehingga timbul persaingan tidak sehat di antara mereka, yang pada ujungnya merugikan masyarakat pengguna jasa mereka.
Untuk mengantisipasi hal tersebut maka wadah para agen properti yakni Arebi (Asosiasi Real Estate Broker Indonesia) telah membuat ‘kode etik’ untuk para anggotanya untuk mengutamakan kejujuran, keahlian, dan keluruhan budi dalam melaksanakan profesinya sebagai agen properti.
Seperti yang dikutip dalam buku Profit Berlipat dengan Investasi Tanah dan Rumah oleh Budi Santoso. Berikut 8 ketentuan dasar ‘kode etik’ yang wajib dimiliki oleh agen properti:
1. Menjunjung tinggi kehormatan, kemuliaan dan nama baik profesi agen properti real estate dalam hubungan kerja dan pemberi tugas, sesama anggota Arebi, broker real estate lain dan masyarakat.

2. Bertindak jujur serta tidak memihak dan dengan penuh dedikasi melayani pemberi tugas dan masyarakat.

3. Tukar-menukar pengetahuan bidang keahliannya secara wajar sesame anggota Arebi, broker real estate  dan kelompok profesional lainnya, meningkatkan pengertian masyarakat terhadap profesi broker real estate, sehingga dapat lebih menghayati karya broker real estate.

4. Menghormati prinsip pemberian imbalan jasa yang layak dan memadai bagi broker real estate.

5. Menghargai dan menghormati reputasi profesional sesame anggota Arebi, broker real estate lain serta setiap perjanjian kerja yang berhubungan dengan profesinya.

6. Mendapat tugas, berdasarkan standar keahlian profesional tanpa melalui periklanan, menawarkan komisi atau mempergunakan pengaruh yang tidak pada tempatnya.

7. Bekerjasama sebagai broker real estate hanya dengan sesama anggota Arebi atau tenaga ahli lain yang memiliki intergritas yang tinggi.

8. Turut serta dalam pengembangan, penyebarluasan, pengetahuan mengenai real estate dalam arti kata seluas-luasnya, dengan cara bekerja sama dengan pemerintah, organisasi atau badan hukum dan kelompok profesional lainnya.   

Sumber: Republika.com

Punya Lahan di Serpong? Jangan Dijual!



SERPONG - "Follow the infrastructure", fatsoen ini akan sangat relevan jika Anda berniat untuk terjun ke bisnis properti. Ke mana arah pembangunan infrastruktur direalisasikan, ke sanalah investasi dibenamkan.

Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan, pembangunan infrastruktur merupakan kunci utama sebuah kawasan akan berkembang dan tumbuh pesat. Bila infrastruktur terbangun, dengan sendirinya mendorong permintaan dan harga juga meningkat.

"Kami berharap, pemerintah yang akan datang mempercepat pembangunan infrastruktur. Infrastruktur ini tidak hanya jalan, tapi juga keseluruhan hingga jaringan dan sistem transportasi terpadu," ujar Ferry kepada Kompas.com, Rabu (21/5/2014).

Mengacu kasus greater area Jakarta khususnya Bintaro, Serpong, Alam Sutera, dan Kebon Jeruk, yang akan dilintasi oleh Jalan Lingkar Luar Jakarta 2 punya peluang untuk menjadi tujuan investasi utama bisnis properti. 

Jalur ini menghubungkan BSD City dengan  Cengkareng, sehingga mudah diprediksi bila mobilitas warga yang melalui jalur ini akan bertambah dengan sendirinya sekaligus peluang bagi investor untuk meraup keuntungan melalui properti-properti yang mereka kembangkan.

Dengan demikian, cuma butuh lima tahun untuk kawasan BSD City, Alam Sutera, Bintaro, Kebon Jeruk untuk booming. Karena populasi sudah terbentuk cukup lama.

Pembangunan infrastruktur, kata Ferry, juga membuat harga lahan dan properti di sekitarnya menjadi tinggi. Kawasan lain sudah padat dan mahal. Sementara Bintaro, Serpong, Alam Sutera, Kebon Jeruk cukup nyaman. Lahan kosong masih tersedia, harga juga masih rendah. 

"Ini akan mendorong pembangunan properti melesat, khususnya perkantoran, apartemen, hotel, dan pusat belanja. Pengembang akan menahan penjualan kavling atau lahan siap bangun. Mereka juga mempertimbangkan peluncuran klaster baru dan akan beralih pada pembangunan apartemen atau properti komersial lainnya seperti kantor, pusat belanja, atau hotel," imbuhnya.

Saat ini, harga sewa properti komersial khususnya perkantoran di pusat kota Jakarta sudah menembus angka rerata 30 dollar AS hingga 45 dollar AS per meter persegi sementara perkantoran yang dipatok dalam harga sewa Rupiah, menembus angka rerata Rp 350.000 per meter persegi. Demikian halnya ruang perkantoran di koridor TB Simatupang yang berada pada posisi d0 dollar AS hingga 25 dollar AS per meter persegi.

Tingginya harga tersebut memaksa para penyewa atau perusahaan-perusahaan untuk berpikir ulang bila melakukan ekspansi bisnis (usaha) dengan membuka kantor baru di pusat kota Jakarta. Dengan harga tinggi, menjadi tidak layak lagi dan membuat pengeluaran perusahaan tidak efektif.

Terlebih bagi perusahaan non servis yang tak butuh eksposur tinggi seperti manufaktur, pertambangan, konstruksi, otomotif dan lain sebagainya. Berkantor di lusar pusat Jakarta akan menjadi opsi utama. Sebut saja kawasan Serpong (BSD City, Gading Serpong, dan Alam Sutera) yang mulai dilirik perusahaan-perusahaan besar untuk membuka ruang kantor dan pergudangan.

"Pergeseran preferensi pasar ini akan menstimulasi pembangunan perkantoran di kawasan Bintaro, Serpong, Kebon Jeruk dan sekitarnya. Saat ini saja, Unilever telah membuka kantornya di BSD City, demikian juga dengan salah satu bank asing yang berkantor pusat di Bintaro. Tren ke depan, akan semakin banyak lagi perusahaan yang berkantor di kawasan-kawasan ini," ujar Ferry. 

Sumber: Kompas.com

Peminat Rumah di Bogor Naik, Geser Jakarta, Bekasi dan Tangerang


JAKARTA - Kawasan Bogor dan Sentul diperkirakan akan terus mengalami pertumbuhan pesat pasca beroperasinya Bogor Outer Ring Road (BORR). Di sisi lain, semakin mahalnya harga tanah di Jakarta, pertumbuhan properti mengalami pergeseran ke kedua kawasan tersebut sebagai penyangga Jakarta. 

"Khususnya untuk segmen menengah ke atas. Sekarang ini prospek properti di Bogor masih didominasi di daerah Dramaga, Baranangsiang, Cibinong, dan Sentul karena keempatnya masih menjadi pusat aktivitas masyarakat di situ," kata CEO Win Properties, Amrit Lakhiani, di Bogor, Selasa (19/5/2014). 

Amrit mengatakan, pihaknya kini memang sedang berekspansi untuk memenuhi permintaan landed house di area Jabodetabek, khususnya Bogor. Salah satu proyek tengah digarapnya adalah Win del Rio Townhouse, sebuah proyek rumah tapak di Bogor. 

Berlokasi di Semplak, Bogor, Win del Rio berada di lahan seluas 1,8 hektar. Perumahan ini terdiri dari 80 unit rumah dan 13 unit ruko. 

"Dengan sistem semi pelayanan town house, kami menjadikan hunian ini sebagai kawasan hunian pertama yang menerapkan sistem pelayanan purna jual optimal di Bogor," ujar Amrit.

Semi layanan town house merupakan konsep yang mengajak pembeli dapat merasakan layanan dari pengembang hingga di masa purna jual. Amrit mengatakan, kebanyakan setelah serah terima unit, pengembang enggan terlibat kembali dan berinteraksi dengan konsumen. 

"Kami menerapkan sistem sebaliknya. Jika nantinya penghuni memerlukan bantuan, misalnya perbaikan AC, bocor, atau hal-hal teknis lainnya, penghuni dapat menggunakan jasa yang disediakan pengembang yang dikhususkan untuk stand by di area depan kawasan perumahan," ujarnya. 

Terkait keberhasilan Win Properties menarik minat masyarakat dengan konsep semi layanan town house tersebut, analis PT Asia Securities, Supriyadi, mencatat penjualan rumah baru di daerah Bogor saat ini memiliki pangsa pasar sebesar 34,4 persen atau tertinggi dibandingkan dengan pangsa pasar di Jakarta (7,4 persen), Bekasi (25,2 persen) dan Tangerang (33 persen). Di sisi lain, pertumbuhan populasi di Bekasi, Bogor dan Tangerang dalam 20 tahun terakhir terhitung cukup besar, yakni mencapai 3,8 persen per tahun. 

"Angka itu jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan populasi di Jakarta yang hanya 1,5 persen per tahun," kata Supriyadi.

Sumber: Kompas

Konsultan Properti Kelas Dunia Rambah Jakarta



London Perusahaan konsultan properti internasional asal Inggris, Savills semakin menunjukkan keseriusannya menancapkan tentakel bisnisnya di kawasan Asia. Terbukti, setelah membuka cabang di Myanmar, kini Savvils mulai beroperasi di kantor barunya di Jakarta.

Seperti dikutip dari Connect.com, Minggu (11/5/2014), Savvils, resmi membuka PT Savvils Consultants Indonesia (SCI) di Jakarta. Di dalam SCI, Savvils tak sendiri. Mereka menggandeng rekan lokal yaitu Property Connection Indonesia. SCI akan dipimpin Jeffrey Hong yang menjabat sebagai anggota direksi tertinggi perusahaan.

"Saya senang membuka kantor terbaru di Jakarta. Langkah ini menyusul pembukaan kantor di Myanmar dan selanjutnya di China dan Taiwan. Ini merupakan komitmen kami untuk terus tumbuh di Asia," ungkap Chief Executive Officer (CEO) Savills South East Asia, Chris Marriott.

Dia menjelaskan, pembukaan tersebut menjadi tanda resminya hubungan bisnis salah satu perusahaan properti terbesar di dunia dengan perusahaan properti di Indonesia Properti Connection Indonesia. Menurutnya, PCI memiliki posisi yang cukup strategis di pasar lokal dan reputasi yang baik untuk konsultasi properti ritel.

"Ini sesuai dengan strategi kami untuk hadir di pasar- pasar berpotensi tinggi. Ini juga peluang bagi kami untuk menyediakan jasa layanan konsultasi internasional pada masyarakat lokal," terang CEO Savills Plc Group Jeremy Helsby. (sis/gdn))

Sumber: Liputan6.com

Bekasi dan Depok Akan Jadi Incaran Para Pemburu Properti


Konsultan properti, Jones Lang Lasalle memperkirakan Bekasi dan Depok, dua daerah yang berada di pinggiran Kota Jakarta, akan menjadi wilayah yang seksi untuk pilihan investasi di sektor residensial (perumahan dan kondominium) dalam beberapa tahun mendatang.

Pasalnya, harga tanah di Bekasi dan Depok masih cukup terjangkau, bahkan berpotensi merangkak naik seiring perkembangan infrastruktur di kawasan tersebut. National Director Head of Strategic Jones Lang Lasalle, Vivin Harsanto mengungkapkan, kondominium mulai menyesaki daerah Bekasi, sementara Depok sudah ramai dengan proyek-proyek pembangunan perumahan.

"Kalau harga tanah di daerah Serpong, Cilandak, Cipete, Puri Indah, Pluit, Kelapa Gading dan lainnya sudah cukup tinggi, sehingga pengembang melirik Bekasi dan Depok," kata dia di kantornya, Jakarta, Kamis (23/1/2014).

Menurut Vivin, kemolekan dua daerah ini sebagai wilayah yang cocok untuk berinvestasi sektor properti kian terangkat seiring dengan kemajuan perkembangan infrastruktur seperti jalan, perguruan tinggi, mal dan sebagainya.

Kondisi ini, tambah dia, mendorong harga tanah di Bekasi dan Depok merangkak naik. Peningkatan harga tanah itu, dimulai dari pengembangan yang dilakukan oleh pengembang besar Sumarecon di wilayah Bekasi. Sementara Depok, aktivitas pengembangan infrastruktur terjadi di daerah Margonda.

"Harga tanah di Bekasi dan Depok berpotensi naik sekitar 20%-30% tergantung bentuk pengembangannya. Karena harga tanah di Bekasi saat ini untuk pembangunan rumah sekitar Rp 5 juta per meter persegi, sedangkan Depok sekitar Rp 3 juta-Rp 5 juta per meter persegi," terang Vivin.

Jika melongok harga tanah di daerah seksi di Jakarta Selatan, seperti Cilandak dan Cipete, harga tanah sudah menembus Rp 10 juta-Rp 15 juta per meter persegi atau mengalami pertumbuhan harga 50%-60% dalam kurun waktu dua tahun. (Fik/Nrm)

Sumber: Liputan6.com

Ini Dia, Indikator Utama Prospek Sebuah Kawasan Baru



Sebagai konsumen yang jeli terhadap pertumbuhan nilai properti dan berkeinginan untuk investasi jangka panjang di sektor tersebut, ada baiknya mengetahui berbagai aspek indikator pada sebuah kawasan baru.
Untuk mengenali indikator utama sebuah kawasan baru. Umumnya, lokasi kawasan tersebut mudah dijangkau, tumbuh pula berbagai perumahan baru disekitarnya.
Berikut ini, beberapa indikator utama prospek sebuah kawasan baru yang dapat jadi patokan sebagai elemen atau daya tarik menanamkan investasi pada properti.
Sebagai kawasan baru, biasanya para developer selain membangun kompleks perumahan, juga menciptakan sebuah kawasan dengan menghadirkan pusat bisnis seperti pertokoan, ruko untuk perkantoran serta area usaha lainnya.
Hal lain yang menarik minat konsumen properti, disekitar kawasan itu pastinya akan bermunculan pula fasilitas kesehatan, sekolah, akses penunjang transportasi serta kemudahan lainnya yang jadi keunggulan.
Tak hanya itu, untuk menciptakan magnet bisnis properti, developer menghadirkan berbagai sarana hiburan seperti wahana permainan dalam kompleks perumahannya.
Jika beberapa poin diatas terlihat memadai, pastinya nilai jual properti dikawasan tersebut bakal mudah terdongkrak dengan cepat.

Sumber: Republika.com

Pengembang Jepang Incar Mega Kuningan



JAKARTA - Pengembang asal Jepang, Tokyu Land, berencana menambah rekam jejak mereka di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. 

Menurut Head of Marketing Tokyu Land, Ardian J Fatkoer, Mega Kuningan telah dibidik sejak lama, karena kawasan ini merupakan jantung Segitiga Emas Jakarta. Selain itu, konsentrasi  perusahaan juga mengarah pada pembangunan properti komersial dan high rise residential. 

"Mega Kuningan sangat sesuai dengan visi dan konsep pengembangan yang diadopsi Tokyu Land. Selama ini, kami telah mengembangkan properti komersial kelas atas di kawasan Setiabudi, Setiabudi SkyGarden, berkolaborasi dengan PT Jakarta Setiabudi International," imbuh Ardian.

Mega Kuningan tampaknya menjadi creme de la creme di kawasan Segitiga Emas Jakarta yang banyak diincar pengembang kakap nasional dan juga mancanegara. 

Lahan kosong untuk pengembangan properti komersial masih tersedia, harganya pun relatif lebih kompetitif ketimbang harga lahan di kawasan Segitiga Emas Jakarta lainnya macam koridor Sudirman, atau Thamrin. 

Harga lahan teraktual masih berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 70 juta per meter persegi, sementara di koridor Sudirman, dan Thamrin sudah menembus kisaran Rp 100 juta per meter persegi.

Tak pelak kawasan bisnis dan diplomatik terpadu tersebut saat ini menjadi primadona para pengembang dan terus bertranformasi menjadi nadi pertumbuhan central business district (CBD) Jakarta.

Tercatat beberapa pengembang besar memiliki portofolio properti komersial di sini. Mereka, antara lain, adalah, Dua Mutiara Group dengan kompleks properti multifungsi hotel dan apartemen The Ritz Carlton, Gapura Prima Group dengan Bellezza Mansion, Megapolitan Development Group dengan The Bellezza Mansion, dan PT Megakuningan International Property menggarap The Hundred.

Jika rencana Tokyu Land direalisasikan, maka lahan kosong yang masih tersisa (tidak termasuk pengembangan baru) tinggal beberapa blok saja. Termasuk milik PT Jakarta Setiabudi International Tbk., (JSI) seluas 3,6 hektar.

Kawasan diplomatik dan bisnis terpadu

Mega Kuningan dirancang sebagai kawasan diplomatik dan bisnis terpadu yang dilengkapi jaringan infrastruktur dan utilitas berstandar internasional. Selain properti komersial, di sini juga terdapat kantor-kantor kedutaan besar negara-negara sahabat.

Lahan Mega Kuningan terbagi atas delapan blok besar yang kemudian dikembangkan menjadi 44 sub-blok lagi. 

Mereka yang beruntung dapat mengelola dan memanfaatkan lahan di sini, telah menuai keuntungan menggiurkan. Dari data Colliers International Indonesia, sektor perkantoran di CBD Jakarta menunjukkan kinerja positif dari tingginya tingkat hunian dan harga sewa.

Tingkat hunian berada pada posisi di atas 95 persen, sementara harga sewa mencapai level rerata 35 dollar AS hingga 45 dollar AS. Sementara residensialnya menembus angka sekitar Rp 40 juta hingga Rp 60 juta per meter persegi.

Kinerja positif ini yang "memaksa" PT Megakuningan International Property, PT JSI Tbk., dan juga Tokyu Land menyegerakan realisasi proyek mereka. 

PT Megakuningan International Property akan membangun The Hundred di atas area seluas 1,1 hektar. Megaproyek ini mencakup gedung perkantoran 24 lantai, serta gedung apartemen dan hotel yang menjulang 50 lantai.

Guna merealisasikan proyek tersebut, PT Megakuningan International Property mengalokasikan dana sekitar Rp 1 triliun. Dana konstruksi ini di luar lahan yang sudah mereka miliki sejak dulu. 

Menurut Presiden Direktur PT Megakuningan International Property, Harjono Lee, dipilihnya kawasan Mega Kuningan sebagai wilayah garapan, karena cocok dengan kelas proyeknya yakni menyasar segmen pasar atas.

Sementara JSI bersiap mengembangkan lahan di lokasi terdepan, seluas 3,6 hektar sebagai properti multifungsi yang akan dimulai konstruksinya pada pertengahan 2015 mendatang.

Properti multifungsi tersebut bakal berisi perkantoran sebanyak dua menara, perhotelan juga dua menara dengan klasifikasi bintang tiga dan lima, serta ruang ritel yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan penghuni perkantoran dan tamu hotel. 

Presiden Direktur PT Jakarta Setiabudi International Tbk, Jeffri Darmadi, memastikan rencana perseroan tersebut. 

"Aspek legal lahan sudah beres dan clear termasuk Surat Izin Penunjukkan Penggunaan Tanah (SIPPT), penetapan koefisien lantai bangunan (KLB), analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), dan lain sebagainya," tutur Jeffri. 

Megaproyek ini diprediksi akan menelan dana sekitar 300 juta dollar AS atau ekuivalen dengan Rp 3,4 triliun. Sebagian dana akan diambil dari hasil penjualan gedung perkantoran menara pertama seluas lebih kurang 60.000 meter persegi, sebagian lagi dari ekuitas perusahaan. 

Tokyu Land sendiri dihadapkan pada pengembangan opsional. Menurut Ardian, terbuka kemungkinan membangun kondominium dan apartemen servis. "Yang pasti, kami sudah memiliki land bank di sini. Namun, luasannya tidak bisa kami publikasikan," ujar Ardian.

Sumber: Kompas.com

Apartemen Kalah Saing dengan Perkantoran di Kawasan TB Simatupang



JAKARTA - Tahun 2014 pertumbuhan apartemen dikawasan sepanjang Jalan TB Simatupang kalah dengan pertumbuhan perkantoran. Berdasarkan riset yang dibuat oleh konsultan properti Colliers Internasional, hanya ada dua apartemen yang akan beroperasi di akhir 2014 dan 2015, sedangkan untuk perkantoran akan ada sembilan gedung perkantoran.

"Di kawasan ini rata-rata yang beroperasi apartemen lama. Hanya dua saja yang baru," ucap Associate Associate Research Director Colliers International Ferry Salanto, pada media di Jakarta baru-baru ini.

Lebih lanjut Ferry menyebut, dua apartemen itu di antaranya apartemen Izzara yang masih dalam tahap konstruksi dan akan dilepas ke pasar pada 2015,dan apartemen Linera yang akan beroperasi pada kuartalterakhir 2014.

Ferry juga menjelaskan kawasan apartemen akan lebih banyak mengarah ke wilayah penyangga yang dekat dengan Jakarta Selatan, seperti BSD, Bintaro dan Alam Sutera. 

Hingga 2014, Colliers mencatat ada sekitar 3.599 unit apartemen strata title dari empat proyek yang berlokasi di kawasan TB Simatupang. Sedangkan untuk apartemen non servis di kawasan ini terdiri atas 549 unit. (wdi)

Sumber: Okezone.com

Tembus Rp5 Juta Per Meter, Tanah di Bekasi Kian Berkibar



Terbang tinggi. Begitulah jawaban yang tersaji kalau Anda bertanya perihal harga tanah dan bangunan di Bekasi. Mau lebih yakin, simaklah paparan Vivin Harsanto, National Director Head of Strategic Consulting Jones Lang LaSalle Indonesia. Kini, harga tanah di Bekasi sudah mencapai Rp5 juta per meter persegi. “Harga tanah di Bekasi berpotensi naik 20%-30%  tergantung pengembangnya,” kata dia di Jakarta (23/1).
Saat ini Bekasi benar-benar dijejali ratusan komplek perumahan mulai dari kelas bawah hingga kelas atas. “Peningkatan harga tanah itu, dimulai dari pengembangan yang dilakukan oleh pengembang besar Sumarecon di wilayah Bekasi,” ujar Vivin.
Dahulu sekitar 2005, kelas menengah atas seakan-akan “menghindar” dari Bekasi. Penyebabnya, apalagi kalau bukan kondisi lalu lintas yang macet parah, di tambah jalan penghubung yang berlubang-lubang. Selain itu, pilihan kelas menengah atas ke Serpong karena merupakan “limpahan” dari mereka yang tidak bisa menjangkau perumahan di kawasan Pondok Indah, Bintaro, atau Kebon Jeruk. Sedangkan kawasan Cibubur dilirik oleh kalangan berduit, karena daerah itu dikenal alamnya masih sejuk dan asri, sehingga sangat digandrungi sebagai kawasan permukiman.
Karena itu, memang agak berat bagi Bekasi untuk “merebut” kelas menengah-atas agar mau bermukim di sana. Namun saat ini justru berbalik. Kawasan Bekasi menjadi incaran para pelaku bisnis properti.
Memang kawasan Bekasi relatif lebih ungggul ketimbang lainnya yang hanya dihubungkan oleh satu jalur tol. Sementara Bekasi, selain bisa diakses lewat jalan tol Jakarta Cikampek (Kalimalang, Bekasi Barat, Bekasi Timur), juga bisa ditembus dari jalan tol dalam kota Taman Mini-Cikunir, atau juga lewat pintu tol Bekasi. Selain itu, rencana pengembangan jalur ganda kereta api Bekasi-Manggarai juga akan semakin mempercepat arus pergerakan orang dari Bekasi ke Jakarta dan sebaliknya.
Itulah kisah tentang Bekasi. Harga tanah di sana terus menanjak. Itu tentu saja membuat pemburu properti – investor atau end user – kian berkibar.

Sumber: Republika.com

Harga Lahan BSD City Tembus Rp 12 Juta Per Meter Persegi!



SERPONG - BSD City di Serpong, Banten, merupakan salah satu dari lima kawasan yang diprediksi Colliers International Indonesia, akan mengalami ledakan properti dalam lima tahun lagi. 

Betapa tidak, saat ini, pengembangan properti berbagai jenis berlangsung intensif. Pembangunan perumahan, pusat belanja, ruko, dan perkantoran, terjadi di setiap jengkal lahan. Tak mengherankan bila aktivitas konstruksi tersebut memicu harga lahan semakin tinggi. 

Menurut Marketing Executive kantor broker properti Ray White BSD City, Erni, posisi harga lahan paling aktual tertinggi mencapai Rp 10 juta hingga Rp 12 juta per meter persegi. Lahan dengan patokan harga dua digit tersebut berada di lokasi-lokasi strategis BSD City, seperti di Jalan BSD Boulevard.

"Sementara harga lahan terendah sekitar Rp 6 juta hingga Rp 7 juta per meter persegi. Lahan dengan harga senilai ini berada di dalam lingkungan perumahan. Di Kencana Loka, kita masih bisa menemui kavling dengan patokan segitu," ujar Erni kepada Kompas.com, Sabtu (24/5/2014). 

Itu pun, lanjut Erni, persediaan terbatas. Hanya beberapa unit kavling saja. Sedangkan harga tertinggi lahan di dalam lingkungan perumahan sekitar Rp 8 juta hingga Rp 9 juta per meter persegi yang berada di dalam area Puspita Loka dan sekitarnya, atau klaster-klaster lama.

Tingginya harga lahan menstimulasi harga properti yang dikembangkan di atasnya. Untuk hunian seluas 72 meter meter persegi dengan lahan 90 meter persegi, ditawarkan sekitar Rp 700 juta hingga Rp 800 juta. Sedangkan tipe di atasnya lagi yakni luas bangunan 90 meter persegi, dan tanah 100-an meter persegi mencapai Rp 1,5 miliar-Rp 2 miliar per unit.

"Meski tinggi, harga lahan dan properti di BSD City jauh lebih rendah ketimbang di Alam Sutera atau Summarecon Serpong. Demikian halnya dengan harga properti komersialnya seperti ruko. Di BSD City, ruko tiga lantai masih dibanderol Rp 2 miliar atau Rp 3 miliar per unit. Sementara Alam Sutera sudah tembus angka Rp 4 miliar per unit," papar Erni. 

Lepas dari itu, tambah Erni, peminat properti di BSD City jauh lebih banyak ketimbang kawasan lainnya. Peminat ini, mengacu pada calon pembeli yang bermotif investasi. Mereka berharap kenaikan atau pertumbuhan yang lebih tinggi karena harga masih lebih kompetitif. Sementara di tempat lain, pertumbuhan akan terjadi lebih moderat karena harga sudah tinggi.

Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan, BSD City punya kesempatan luas untuk menjadi generator pertumbuhan properti di wilayah Serpong. Pasalnya, kawasan ini dilintasi oleh jaringan infrastruktur dan transportasi terpadu. 

"Jalan Tol Lingkar Luar 1, menghubungkan koridor Simatupang dan BSD City. Sementara Jalan Tol Lingkar Luar 2 akan menghubungkan BSD City dengan kawasan lainnya hingga mencapai Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Kami prediksikan BSD City dan kawasan lainnya yang terhubung jalur ini akan booming dalam lima tahun ke depan," pungkas Ferry.

Sumber: Kompas.com

Untuk Apartemen Rp 200 Jutaan, Bekasi Belum "Over Supply"


BEKASI - Pengembang properti kini mulai membidik Bekasi sebagai daerah strategis untuk berinvestasi. Pembangunan gedung-gedung apartemen mulai bermunculan sejak pintu keluar tol. 

Salah satu perusahaan yang tidak ketinggalan dan turut membangun apartemen di kawasan Bekasi adalah PT Starindo Kapital Indonesia. Menurut Komisaris PT Starindo Kapital Indonesia, Budi Kartika, kebutuhan hunian di Bekasi begitu besar sehingga pihaknya tidak takut terjadi kelebihan pasokan atau over supply.

Budi mengatakan, Metropolitan Park akan menyediakan 2000 unit apartemen di Bekasi. Dia mengaku yakin, jumlah tersebut tidak banyak. (Baca: Bekasi Tambah Apartemen Terbaru, Harga Dibanderol Rp 170 Juta!).

"Lagi pula, hingga saat ini Bekasi masih jauh dari kelebihan pasokan apartemen. Ini semakin lumrah, jika pengembang masih membidik kalangan menengah ke bawah dengan menyediakan hunian, khususnya apartemen, di bawah Rp 200 juta per unit," kata Budi seusai konferensi pers di lokasi proyek Metropolitan Park Apartment di Bekasi, Minggu (11/5/2014).

"Saya lihat pasar yang tebal itu untuk segmen menengah bawah," tambahnya.

Budi menjabarkan, dari ratusan juta peduduk Indonesia, hampir 60 persennya berpusat, bermukim, dan bekerja di Pulau Jawa. Dari jumlah tersebut, 60 persennya berada di taraf menengah bawah. Karena itu, khusus untuk daerah sekitar Ibu Kota saja, kebutuhan rumah mencapai jutaan unit.

Dia mengakui, kelebihan pasokan apartemen memang bisa terjadi. Namun, hal tersebut terjadi pada pasokan apartemen super mahal untuk kelas menengah atas. 

"Kalau untuk menengah atas, saya setuju. Tapi, untuk menengah bawah (pasarnya) tebal sekali," katanya.

Sementara itu, GM Marketing and Sales PT Starindo Kapital Indonesia, Subur Kusuma, mengatakan bahwa dalam lima tahun ke depan Bekasi akan menjadi kota penunjang Jakarta dengan moda transportasi lengkap. Kemudahan itulah yang sangat mendorong para pengembang membuat proyek-proyek hunian vertikal di Bekasi.

Sumber: Kompas.com

2016, Sumarecon Masuk Bogor



BOGOR - PT Summarecon Agung Tbk berencana memperluas ekspansi bisnisnya di Bogor, Jawa Barat, mulai 2016 mendatang.

Kepastian tersebut diungkapkan Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk., Johannes Mardjuki kepada Kompas.com, Rabu (14/5/2014).

"Kami akan masuk Bogor secara resmi pada tahun 2016 mendatang, setelah pengembangan Summarecon Bandung yang lebih dulu dikerjakan. Saat ini tengah mempersiapkan desain induknya. Lahannya sendiri sudah clear dan dibebaskan, kami tinggal membangun," kata Johannes.

Di Bogor, Summarecon Agung akan mengembangkan perumahan skala kota dengan luas lahan 300 hektar. Selain perumahan, mereka juga akan membangun properti komersial seperti ruko, pusat belanja, hotel, dan rukan dengan alokasi lahan seluas 25 hektar.

"Pasar Bogor sangat prospektif. Masa depannya juga cerah, karena masih berada dalam area Jadebotabek dengan daya beli tinggi. Kebutuhan tinggi, namun pasokan terbatas. Kami optimistis Summarecon Bogor akan tumbuh pesat," imbuh Johannes.

Summarecon masuk Bogor dengan cara mengakuisisi dua anak usaha Coliman Limited. Serupa dengan pengembangan skala kota lainnya, di kota hujan, Summarecon akan membawa prototipe pengembangan Summarecon Kelapa Gading, Summarecon Serpong, dan juga Summarecon Bekasi.

Di ketiga pengembangan skala kota tersebut, mereka sukses membangun hunian dan menciptakan komunitas secara mandiri, karena semua fasilitas yang dibutuhkan penghuni, terpenuhi.Summarecon masuk ke Bogor dengan cara mengakuisisi dua anak usaha Coliman Limited.  

Sumber: Kompas.com
 
graha 50 - asakarya group
59 core business
PROPERTI | MAGAZINE | TV | RADIO | SITEMAP
© 2014~ Graha 59 Network :: Global Business and Entertainment
Office: Jalan Ampera Raya No. 59, Jakarta 12560 - Indonesia
Telp/Fax: +6221-8765.4321 / 8765.4322 | Email: contact@graha59.com