graha 59 - andalusiya wood
Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.
graha
Tampilkan postingan dengan label Tanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanah. Tampilkan semua postingan

Punya Lahan di Serpong? Jangan Dijual!



SERPONG - "Follow the infrastructure", fatsoen ini akan sangat relevan jika Anda berniat untuk terjun ke bisnis properti. Ke mana arah pembangunan infrastruktur direalisasikan, ke sanalah investasi dibenamkan.

Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan, pembangunan infrastruktur merupakan kunci utama sebuah kawasan akan berkembang dan tumbuh pesat. Bila infrastruktur terbangun, dengan sendirinya mendorong permintaan dan harga juga meningkat.

"Kami berharap, pemerintah yang akan datang mempercepat pembangunan infrastruktur. Infrastruktur ini tidak hanya jalan, tapi juga keseluruhan hingga jaringan dan sistem transportasi terpadu," ujar Ferry kepada Kompas.com, Rabu (21/5/2014).

Mengacu kasus greater area Jakarta khususnya Bintaro, Serpong, Alam Sutera, dan Kebon Jeruk, yang akan dilintasi oleh Jalan Lingkar Luar Jakarta 2 punya peluang untuk menjadi tujuan investasi utama bisnis properti. 

Jalur ini menghubungkan BSD City dengan  Cengkareng, sehingga mudah diprediksi bila mobilitas warga yang melalui jalur ini akan bertambah dengan sendirinya sekaligus peluang bagi investor untuk meraup keuntungan melalui properti-properti yang mereka kembangkan.

Dengan demikian, cuma butuh lima tahun untuk kawasan BSD City, Alam Sutera, Bintaro, Kebon Jeruk untuk booming. Karena populasi sudah terbentuk cukup lama.

Pembangunan infrastruktur, kata Ferry, juga membuat harga lahan dan properti di sekitarnya menjadi tinggi. Kawasan lain sudah padat dan mahal. Sementara Bintaro, Serpong, Alam Sutera, Kebon Jeruk cukup nyaman. Lahan kosong masih tersedia, harga juga masih rendah. 

"Ini akan mendorong pembangunan properti melesat, khususnya perkantoran, apartemen, hotel, dan pusat belanja. Pengembang akan menahan penjualan kavling atau lahan siap bangun. Mereka juga mempertimbangkan peluncuran klaster baru dan akan beralih pada pembangunan apartemen atau properti komersial lainnya seperti kantor, pusat belanja, atau hotel," imbuhnya.

Saat ini, harga sewa properti komersial khususnya perkantoran di pusat kota Jakarta sudah menembus angka rerata 30 dollar AS hingga 45 dollar AS per meter persegi sementara perkantoran yang dipatok dalam harga sewa Rupiah, menembus angka rerata Rp 350.000 per meter persegi. Demikian halnya ruang perkantoran di koridor TB Simatupang yang berada pada posisi d0 dollar AS hingga 25 dollar AS per meter persegi.

Tingginya harga tersebut memaksa para penyewa atau perusahaan-perusahaan untuk berpikir ulang bila melakukan ekspansi bisnis (usaha) dengan membuka kantor baru di pusat kota Jakarta. Dengan harga tinggi, menjadi tidak layak lagi dan membuat pengeluaran perusahaan tidak efektif.

Terlebih bagi perusahaan non servis yang tak butuh eksposur tinggi seperti manufaktur, pertambangan, konstruksi, otomotif dan lain sebagainya. Berkantor di lusar pusat Jakarta akan menjadi opsi utama. Sebut saja kawasan Serpong (BSD City, Gading Serpong, dan Alam Sutera) yang mulai dilirik perusahaan-perusahaan besar untuk membuka ruang kantor dan pergudangan.

"Pergeseran preferensi pasar ini akan menstimulasi pembangunan perkantoran di kawasan Bintaro, Serpong, Kebon Jeruk dan sekitarnya. Saat ini saja, Unilever telah membuka kantornya di BSD City, demikian juga dengan salah satu bank asing yang berkantor pusat di Bintaro. Tren ke depan, akan semakin banyak lagi perusahaan yang berkantor di kawasan-kawasan ini," ujar Ferry. 

Sumber: Kompas.com

Tembus Rp5 Juta Per Meter, Tanah di Bekasi Kian Berkibar



Terbang tinggi. Begitulah jawaban yang tersaji kalau Anda bertanya perihal harga tanah dan bangunan di Bekasi. Mau lebih yakin, simaklah paparan Vivin Harsanto, National Director Head of Strategic Consulting Jones Lang LaSalle Indonesia. Kini, harga tanah di Bekasi sudah mencapai Rp5 juta per meter persegi. “Harga tanah di Bekasi berpotensi naik 20%-30%  tergantung pengembangnya,” kata dia di Jakarta (23/1).
Saat ini Bekasi benar-benar dijejali ratusan komplek perumahan mulai dari kelas bawah hingga kelas atas. “Peningkatan harga tanah itu, dimulai dari pengembangan yang dilakukan oleh pengembang besar Sumarecon di wilayah Bekasi,” ujar Vivin.
Dahulu sekitar 2005, kelas menengah atas seakan-akan “menghindar” dari Bekasi. Penyebabnya, apalagi kalau bukan kondisi lalu lintas yang macet parah, di tambah jalan penghubung yang berlubang-lubang. Selain itu, pilihan kelas menengah atas ke Serpong karena merupakan “limpahan” dari mereka yang tidak bisa menjangkau perumahan di kawasan Pondok Indah, Bintaro, atau Kebon Jeruk. Sedangkan kawasan Cibubur dilirik oleh kalangan berduit, karena daerah itu dikenal alamnya masih sejuk dan asri, sehingga sangat digandrungi sebagai kawasan permukiman.
Karena itu, memang agak berat bagi Bekasi untuk “merebut” kelas menengah-atas agar mau bermukim di sana. Namun saat ini justru berbalik. Kawasan Bekasi menjadi incaran para pelaku bisnis properti.
Memang kawasan Bekasi relatif lebih ungggul ketimbang lainnya yang hanya dihubungkan oleh satu jalur tol. Sementara Bekasi, selain bisa diakses lewat jalan tol Jakarta Cikampek (Kalimalang, Bekasi Barat, Bekasi Timur), juga bisa ditembus dari jalan tol dalam kota Taman Mini-Cikunir, atau juga lewat pintu tol Bekasi. Selain itu, rencana pengembangan jalur ganda kereta api Bekasi-Manggarai juga akan semakin mempercepat arus pergerakan orang dari Bekasi ke Jakarta dan sebaliknya.
Itulah kisah tentang Bekasi. Harga tanah di sana terus menanjak. Itu tentu saja membuat pemburu properti – investor atau end user – kian berkibar.

Sumber: Republika.com
 
graha 50 - asakarya group
59 core business
PROPERTI | MAGAZINE | TV | RADIO | SITEMAP
© 2014~ Graha 59 Network :: Global Business and Entertainment
Office: Jalan Ampera Raya No. 59, Jakarta 12560 - Indonesia
Telp/Fax: +6221-8765.4321 / 8765.4322 | Email: contact@graha59.com